Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Alur hidup seorang dokter dalam dakwah dengan sepedanya

Pergi berduyun-duyun mencari pengobatan ke negeri Singa dan Jiran
Dengan hikmatnya, dengan bangganya

Mahalnya pesawat, mahalnya akomodasi, mahal biaya pengobatan mereka tak peduli
yang penting didapatkan di luar
yang penting diperlakukan hingar bingar

Minimal 30 juta rupiah mereka keluarkan
untuk pemeriksaan laboratorium canggih membabi buta
CT Scanning seluruh organ ratusan potongan melintang pukang
untuk rontgen semua sisi tulang belulang
cek kencing, dahak, kotoran dengan alat-alat diagnostik ratusan milyaran
Padahal hasil akhirnya, diagnosa hanyalah infeksi paru-paru kronis
yang di sini cukup pakai stetoskop dan rontgen dada saja

Habisnya bagaimana lagi
Di negeri Jiran dan Singa mereka diperlakukan sebagai raja
bisa ngobrol dengan dokter 1 jam sepuasnya
walau untuk 1 jam bicara  tersebut dibebankan biaya senilai 1 juta, mereka puas sekenanya

Sedangkan di negeri sendiri
mulut mereka monyong jika ditagih 100 ribu saja
karena itu waktu dokter indonesia konsultasi hanya 5 menit
jangan berharap yang rumit-rumit
karena terlalu banyak di bumi ini orang sakit
tapi untuk orang sendiri mereka pelit
untuk orang luar mereka royal

Yang dapat kita pelajari adalah
Kerjasama lintas sektoral di luar sana
Pengobatan canggih bermodal besar harus uang kembali cepat
Maka wisata berobat dikibarkan
rumah sakit dibuat semewah mall dan hotel
ada restoran dan pertunjukan

Ditambah lagi kerja brilyan agen-agen  promosi mereka berkeliaran di rumah sakit-rumah sakit di Indonesia
dengan bonus 1000 dollar bila bisa mengirim 1 pasien
maka dengan gencar mempromosikan kedigjayaan pengobatan mereka dan memperolok-olok otak medis Indonesia

Dua ratus ribuan perbulan orang kaya negeriku
jadi 80% pasien di negeri Singa-Jiran
sedangkan pasien asli sana hanya 20% nya saja

Mengapa demi otak bisnis medis luaran mereka rela keluarkan duit 30 jutaan
sedangkan untuk  100 ribu sampai setengah jutaan  otak medis nusantara mereka tak rela?

karena itulah mental kita Indonesia
untuk kaum sendiri mereka penuh perhitungan dan berupaya sedapatnya gratisan
untuk orang luar mereka ROYAL JOR-JORAN

Satu tanya:

Apa yang salah di negeri ini?

SEMUA!!!!

(19 Juni 2008, saat keluarga sendiri bangga berobat keluar negeri habis 30 juta hanya untuk penyakit yang jika aku memeriksa cuma butuh pemeriksaan 200 an ribu saja....GILA!!!)

Sumber : http://posmavip.multiply.com/journal?&page_start=20


12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
aabab01 wrote on Jul 24, '08
biasalah orang mahu yang terbaik..servis dil uar mungkin bukan sekadar peralatannya yang canggih malah cara servis layanan juga mainkan peranan penting demi menjaga hati setiap pelanggan...tambahlagi kasus-kasus yang lalu telah menampakkan kejayaan..pastinya orang-orang merasa lega dan selesa....pasal wang pastinya macam membazir tapi yang membuat mereka puashati adalah servis world class...saya ada teman yang juga berubat..mereka merasakan peralatan di luar lebih baik dan sempurna kerana ada perbezaan cara mereka mendapatkan konsutasinya dan maklumbalas tentang penyakit diberi maklumat yang sangat berlainan dan mereka sanggup ke luar untuk medapat rawatan walaupun perlu keluar ribuan juta...yang penting puashati dan terjamin...
bebensyahdan wrote on Jul 24, '08
Mental bangsa perlu diperbaiki..
posmavip wrote on Jul 24, '08
Jaman gini gak perlu buku puisi prof Harun, blog puisi bae...kita kan gak perlu cari uang dari penerbitan lagi, sudah cukup dari pasien
harunhdr wrote on Jul 24, '08
Bikin buku itu bukan buat cari uang tapi untuk kepuasan batin.(emang batinmu belum puas dgn wong rumah ???)
posmavip wrote on Jul 24, '08
Wong rumah tuh puas jasmani prof harun, dak sempet bepuisi kalo nak belaju.......
gustar wrote on Jul 25, '08
Hmm. RS Santosa di Bandung bagus. Cuma orang gak banyak yang tau. Taunya RS kumuh. Mari hargai karya bangsa. Siapa tau pak dokternya jadi langganan bisnis Anda (agak susah kalau ngarep gini ke dokter Sing)
umenohana wrote on Jul 25, '08
mungkin perlu adanya introspeksi juga bagi pemerintah dan paramedis dalam negeri..meminimalisir kekurangan2 dan meningkatkan mutu pelayanan...(waktu smp saya pernah dibawa ortu ke UGD di RSUP Palembang, cuma karena luka ringan di pergelangan tangan, dokter jaga nya lagi asik main tetris) dan memeriksa saya dengan tangan masih memegang tetris, lalu seenaknya memutuskan operasi...lha...kita pulang saja, besok2 juga sembuh sendiri kok..).
kardiyoga wrote on Jul 28, '08
Ass, berat deh dok kita tahu kadang paramedis di indonesia mallpraktek terselubung dengan antibiotik dosis tinggi tanpa memikirkan jangka panjang si pasien, hanya untuk biar cepat terkenal dia korbankan kode etik
yang jadi korban dokter yang profesional ya banyak yang lari ke luar
harunhdr wrote on Aug 1, '08
mungkin perlu adanya introspeksi juga bagi pemerintah dan paramedis dalam negeri..meminimalisir kekurangan2 dan meningkatkan mutu pelayanan...(waktu smp saya pernah dibawa ortu ke UGD di RSUP Palembang, cuma karena luka ringan di pergelangan tangan, dokter jaga nya lagi asik main tetris) dan memeriksa saya dengan tangan masih memegang tetris, lalu seenaknya memutuskan operasi...lha...kita pulang saja, besok2 juga sembuh sendiri kok..).
mungkin perlu adanya introspeksi juga bagi pemerintah dan paramedis dalam negeri..meminimalisir kekurangan2 dan meningkatkan mutu pelayanan...(waktu smp saya pernah dibawa ortu ke UGD di RSUP Palembang, cuma karena luka ringan di pergelangan tangan, dokter jaga nya lagi asik main tetris) dan memeriksa saya dengan tangan masih memegang tetris, lalu seenaknya memutuskan operasi...lha...kita pulang saja, besok2 juga sembuh sendiri kok..).
Memang dunia kedokteran Indonesia perlu intropspeksi tentang ini. Juga mental pamer dan luar negeri minded masyarakat kita juga perlu dikoreksi. Mari bersama memperbaiki diri
qashie wrote on Jan 12, '09
assalamualaikum Dok, kalau menurut saya hilang nya kepercayaan orang dengan medical team kita yg bertukar jadi pelit juga karna kurang nya HOLISTIC CARE dari team kita sendiri, contoh nya waktu saya kerumah sakit ngunjungin kakak saya yg habis di operasi, itu perawat nya gak senyum ,boro boro kalau mau bertukar sapa dengan pasien , Dr nya begitu jug terkesan kaku dan sombong, padahal orang ini keruma sakit bayar bukan free mereka ini client, kurang ramah , mahal senyum, terkesan sombong. dan soal Hygine kita kurang banget terutama soal toi let dan pakaian seragam perawat yg berlengan panjang , aduh itu lengan baju dari pasien ke pasien gak tukar, pakek gloves juga kan gak sampe siku, yg di cuci kan telapak tangan ke pergelangan doang klo baju lengan panjang gitu, , aduh ..gimana seh . waktu perawat mau nolong ngambilin makan , saya bilang tidak terima kasih saya biar ngambil sendiri. ngeri saya...yg mau nerima perawatan begini hanya orang yg tidak tahu pengobatan di luar negri dan orang yg tidak mampu . thanks dok
qashie wrote on Jan 23, '09, edited on Jan 29, '09
met malem Dr, saya mau berbagi cerita sedikit. contoh yg sangat menyedihkan. teman saya seorang guru kehilangan suaminya 6 tahun yg lalu. sebelum meninggal beliau sering mengeluh sakit perut dan biasanya di sertai muntah muntah kebetulan almarhum ini pegawai PUSRI jadi selalu di bawa kerumah sakit PUSRI.setiap almarhum mengeluh sakit perut diagnosis Dr kalau gak dearea karna salah makan . besok lagi di bilang Gall Stone. pokok nya setiap pergi diagnosis nya selalu laen juga. yg aneh nya lagi sempat di scan juga di bilang gall stone. terahir sekali thn 1998 beliau sakit perut dan muntah muntah di bawa kerumah sakit, Jam 6 sore masuk , alhasil jam 9 malam beliu sudah mau melepas kan nafas terahir . BARU KETAHUAN RUPANYA ALMARHUM MENDERITA KANKER PANCREAS , DAN HARI ITU SUDAH PECAH . BELIAU MENINGGAL DENGAN MENUNTUN YASSIN SENDIRI BERSAMA ISTRI DAN KEDUA PUTRA NYA NYA YG MENGERTI BAHWA MAUt SUDAH MENJEMPUT. Nah saya heran sekali bagai mana semua bisa kebobolan mis diagnosis dan baru ketahuan saat pasien sudah mau meninggal????..... tapi keluarga nya tidak menuntut , hanya menerima 'sebagai takdir ' Kalau ini terjadi ti luar, di eropa contoh nya, ini sudah terjadi investegasi besar besaran dan siappun yg bersangkutan akan ke hilangan izin practice , minimal saspended the licence by ROYAL COLLAGE OF MEDICINE.
Comment deleted at the request of the author.
Add a Comment